“Siap-siap menahan nafas melihat keberanian Merida! Salah satu Princess Disney yang menabrak image seorang putri di benak masyarakat umum. Relate untukmu si asertif dan inspirasi untukmu si wallflower”
Hai klippers, sebelum membahas panjang lebar petualangan Merida, simak yuk trailernya :
https://www.youtube.com/watch?v=6CKcqIahedc
Nah, kalau dari trailernya nih, kelihatan sedikit gambaran Putri Merida ya klipers. Kalau dilihat dari perspekti emak-emak, kira-kira ada yang ingat dengan anak kedua atau anak bontot nya ngga, nih? hahaha soalnya aku ingat betul sama si bontot yang karakternya sebelas dua belas sama Putri asal Skotlandia ini. Bawaannya pengen nge-gas terus kalau diberi penjelasan. Plus si bontot ini juga kriwil rambutnya. hehehe
“She’s (Merida, red) a spirited adventurous athletic last” -Katherine Sarafian – Producer of Brave
“Merida is not your typical princess at all. She’s a bit of tomboy and she’s at her best when she’s out in the elements” -Kelly Macdonald – Voiced Princess Merida

Pic from : https://de.pinterest.com/pin/405746247669799175/
Aku sempat mengira bahwa film yang release tahun 2012 ini adalah another princess story. Sedikit penasaran, akhirnya aku coba untuk menonton full film fiksi yang ditulis oleh para creators terkenal yang juga menciptakan film Wall-E, Toy Story 3, dan Up.
Cukup surprise, ternyata aku menangkap kuat penekanan cerita tentang hubungan antara seorang anak remaja dan ibunya, Ratu Elinor. Highly recommended untuk ditonton bersama ananda, khususnya yang memiliki buah hati perempuan. Karena kita akan disuguhi dengan intrik komunikasi ibu dan anak. Mulai dari argumentasi antar keduanya, negosiasi, hingga puncak perdebatan yang menjadi plot twist film gubahan Pixar ini. Banyak yang mempermasalahkan plot twist dari cerita ini, namun kali ini kita hanya bahas dari point of view hubungan antara anak-orang tua saja ya, klipers.
Di awal film, kalian sudah dapat melihat dengan jelas karakter Ratu Elinor yang merupakan ibu yang bersuara lembut dan menjunjung tinggi nilai elegan dari seorang wanita. Sedangkan ayah Merida, Raja Fergus, digambarkan sebagai ayah yang kuat, berani, playful, dan suka sekali bersosialisasi dengan iringan tawa menggelegar. Keduanya hadir sebagai orang tua yang suportif kepada ke-empat anaknya.
Bagi para ibu yang berasal dari budaya ke-timur-an, melihat keleluasaan putri berambut merah ini berpendapat, mimik mukanya, hingga intonasinya berbicara kepada Ratu Elinor, rasanya sudah merupakan bentuk “brave” tersendiri hehehe. Kalau kata orang sunda mah “pamali atuh neng”.
Film yang mendapatkan Academy Award for Best Animated Featured ini, menekankan konflik pada ekspektasi seorang ibu ketika menata anaknya menjadi seorang perempuan ideal, seorang putri yang akan meneruskan tahta ayahandanya. Sedangkan sang anak memiliki impian sendiri terhadap masa depannya. Terlebih lagi mengingat umur Merida sudah menginjak umur yang pada masa itu sudah harus mulai mencari pasangan.
Awalnya aku mengira Merida akan kabur dan menemukan jalan hidupnya sendiri bertemu pangeran dan lain-lain. Namun, sang creator tetap membuat Merida kembali ke istana. Melalui plot twist nya itu, putri yang lihai memanah ini, diberi kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bertanggung jawab atas kecerobohan yang dilakukannya kepada hampir seluruh anggota keluarganya yang bisa berakibat fatal kepada keberlangsungan nenek moyangnya apalagi kerajaannya. Apa itu ya? penasaran yaa..
Jangan khawatir klipers, selain dihibur oleh kejenakaan tiga adik kembar Merida yang sangat usil juga berani, film ini tidak hanya me-refresh mata kita dengan suasana keindahan dataran tinggi di Skotlandia. Telinga kita juga akan dimanjakan oleh instrumen musik khas negara yang berbatasan selatan dengan Inggris ini yaitu alat musik seperti bagpipes, solo fiddles, Celtic harp dan flutes. Tidak heran, karena komposernya juga berasal dari Skotlandia, yaitu Patrick Doyle.
Nah, kira-kira nih, kalau jadi seorang Ratu Elinor, klipers akan tetap gentle merespon atau akan mengaum merespon anak perempuan semata wayang ini? Kalau aku rasanya pengen cepet-cepet cari sandal nih hahaha, canda ya klipers.. Yuk! nonton bareng keluarga. Petik apa saja kesan dari klipers dan atau reaksi ananda setelah menonton film yang mendapat banyak penghargaan ini. Boleh komen dibawah ya.. salam sandal melayang, eh salam sabar this too shall pass, hihihi..
Dian Sofie














