Hai,
Sebelum baca artikel ini. Untuk menemanimu membaca. Klik disini ya. I promise you it’s a good tune 🙂
—————-
Sedari kecil kita selalu diberikan dorongan untuk menggapai mimpi. Jangan tanggung-tanggung, mimpinya yang besar membahana sekalian. Kalau bisa nih jadi satu-satunya di dunia yang bisa melakukan hal besar dan kemudian seantero dunia mengenal kita akan hal besar yang kita lakukan.
Kita yang masih kecil bermain peran-peranan, memakai baju dokter-dokteran, karnaval menggunakan baju polisi, atau berlagak menjadi presiden. Para orang dewasa melihatnya dengan senyum, juga tertawa. Tak jarang mereka melontarkan “anak hebat ini sukses nanti” karena satu dua hal yang dilakukan kita saat kecil. Bocah yang begitu berani bermimpi, bahkan semua orang dsekitarnya menepukinya untuk bermimpi jauh nun agung.
Perlahan umur bertambah, tiba-tiba kenyataan menampar para pemeluk mimpi. Mereka yang tadinya tertawa dan support anak-anak dengan mimpi besar, tiba-tiba berubah menjadi orang yang penuh tuntutan juga judgemental terhadap apapun yang dilakukan kita yang masih berumur belasan. Semakin besar “cambukan” semakin terasa perih. tiba-tiba ketika kita bermimpi, mereka yang mensupport kita malah menertawakan kita lalu berteriak “Sok idealis!”
Fiuhhh.. se-gamang itu kah manusia atau kah mimpi itu memang hanya diperuntukkan bagi anak-anak saja ? Perlahan akhirnya kita menerima kenyataan pahit bahwa mimpi itu mungkin hanya pantas disematkan sebagai bunga tidur. Kemudian seumur hidup menceburkan diri pada arus, mengambang kesana-kemari sesuai arus yang sedang deras atau arus yang katanya bisa sampai pada lautan luas penuh mutiara.
——
Ah Mimpi.. menjadi dewasa itu justru seperti terbangun dari mimpi indah dan menyadari banyak mimpi buruk menjadi nyata hehe. Sepertinya sudah lama aku menanggalkan mimpi-mimpi membahana tur bekemilauan. Jadi ingat waktu itu impulsif beli mesin jahit lalu manggil mentor kerumah. Saat itu posisiku baru menjadi ibu rumah tangga beberapa bulan. Karena sudah memahami diri sendiri yang terlalu sering halu alias berkhayal jadi aku hanya bilang bahwa belajar menjahit hanya ingin sekedar bisa, tidak memiliki mimpi besar. Sontak Mba Mentor Cantik itu langsung kaget dan bilang “lho jadi orang itu harus punya mimpi besar, mimpi yang ingin dicapai” katanya sambil mengajarkan ukur pola menggunakan penggaris kuning.
Untuk tipe orang sepertiku, rasanya bermimpi bukan hal yang susah. Justru menginjakkan kaki di bumi lhah yang harus sering diingat-ingat hahaha. Entahlah mungkin saat belajar jahit itu aku berfikir bahwa kesempatanku berkarir didunia yang aku impikan itu padam, karena sudah membulatkan tekad untuk mendidik dan mengurus anak-anak sendiri. Di umur duo MiMi yang masih balita, kupikir bermimpi adalah hal yang terlalu mewah, bahkan sekedar hanya untuk dibayangkan.
“Yah yang nyata-nyata aja deh” gitu pikirku. Banyak belajar parentng, baca buku dan ikut kelas, lalu bergabung beberapa komunitas. Tiba-tba menggiringku pada pintu lain untuk di gedor. Yak bukan dibuka lagi tapi digedor. Karena apa ? Karena aku akhirnya menyadari menjadi orang tua atau belajar parenting, itu sangat tidak munngkin untuk lepas dari reparenting diri sendiri. Akhirnya sambil belajar parenting, ngurus anak, belajar masak, management rumah tangga (ceile gaya beud bahasanya), aku nekad ambil kelas yang menuntutku untuk menguak sekuak-kuaknya luka lama ! Oh trully itu keputusan gila yang bener-bener berat dan aku bersyukur memeluk diriku sendiri yang ternyata kuat menjalaninya. Merasa lega sudah berani memutuskan ambil kelas mindset dan self-healing, perlahan penglihatanku yang kabur akan diriku sendiri mulai lebih jelas. Hal yang aku sadari utama adalah, menjadi ibu dan istri adalah bagian dari diriku. Menjadi dirku sendiri adalah sebuah keniscayaan yang pada dasarnya tidak dapat ditanggalkan keberadaannya. Hanya saja betuk prioritas yang akhirnya membedakan segalanya.
Melalui kelas itu aku menyadari, mungkin mimpiku untuk bekerja di luar negeri, bertemu orang profesional, dan menjadi benar-benar ahli dibidang yang kugeluti, bukannya terkubur tetapi berganti haluan saja. Mungkin aku tidak akan bekerja di kantor mentereng dan bertemu banyak orang baru, dengan bonus jauh dari rumah saat muda hehe, bukan juga ikut dalam barisan orang yang keren karena nama perusahaan (which is i ever felt that too). Melalui reparenting self dan self healing itu aku menyadari banyak pintu yang masih tetap terbuka setelah satu pintu tertutup. Namun aku harus akui, jika pintu yang tertutup itu bukan pintu yang sama dengan yang terbuka saat ini. Pintu yang tertutup itu berkilauan bersih terbuat dari kaca dan terbuka otomatis dengan ukuran tinggi. Kali ini aku harus bisa menerima bahwa banyak pintu terbuka ini adalah pintu sederhana yang terbuat dari kayu, berbentuk segi panjang berwarna coklat dan dibuka dengan manual.
Untuk menerima kenyataan itu saja membutuhkan waktu yang cukup panjang. Perjalanan menerima ini cukup membuatku sangat sadar bahwa arah yang kutuju sama sekali berbeda dengan orang terdekat dan orang pada umumnya. Terbaik dari proses yang kujlani adalah aku bisa mewujudkan impian untuk tumbuh sebagai diriku yang semakin utuh dan autentik dengan tetap memeluk dan membersamai anak-anakku juga sebagai salah satu tim utama dari keluarga kecil ini. Seperti kata cak James Clear di bukunya Atomic Habits “Membatasi kepuasan anda berdasarkan satu skenario tidaklah masuk akal ketika ada banyak jalan lain yang dapat ditempuh untuk meraih kesuksesan”
So i guess i make my own scenario. Yup.. setelah memahami habit apa saja yang harus kutata dan kupertahankan hingga menguat, termasuk habit keluarga karena peran ibu dan istri tidak akan bisa menunggu, akhirnya kupikir “Kenapa aku tidak membuat skema jenjang karirku sendiri?!” So I made that based on the habit i want to have for the rest of my life.
Menyadari posisiku dimana dan progress ku bagaimana termasuk arah ku kemana (again, arah yang sejalan dengan keluarga) finally aku bisa bermimpi lagi. Kali ini mimpiku tidak membuatku melayang-layang terbang ke angkasa. Mimpiku sekarang membuatku sadar aku ada dimana. Bukan lagi mengatakan cita-cita, tapi menyatakan peranku sekarang dan kelak.
Semoga melalui tulisan, foto dan pendidikan aku bisa berkontribusi lebih luas kepada siapapun. Menumbuhkan kesaadaran kepada setiap anak bahwa mereka memiliki potensi itu dalam diri mereka. Bukan lagi tentang mengunyah ratusan kecemasan berprestasi diatas kertas tetapi tumbuh dari dalam keluar dengan beraksi dan belajar dalam kehidupan.
Entahlah apa itu masih bisa dikatakan sebuah pekerjaan ? Entahlah itu bentuknya apa. Aku hanya bisa memvisualkan sebuah galeri bermain dan tempat luas untuk berekspresi bagi siapapun. Semoga perlahan 1% prosesku ini bisa membawaku ke tempat terbaik dimana fungsiku bermanfaat maksimal. I guess, even finally i said enough and sold my sewing machine, I guess I know I’m brave enough to never quit My Daydream..
Happy Kliping,
DianSofie











